Page 307 - Introduction to Islam
P. 307

yaqūmu  (artinya,  „mendirikan‟  atau  „menegakkan‟);  tidak
                               menggunakan   kata   berinfinitif   ’amila   –   ya’malu   (artinya,
                               „mengerjakan‟).  Ini  berarti,  salat  tidak  sekadar  dikerjakan
                               melainkan  harus  dikerjakan  secara berkualitas  sesuai dengan
                               esensi  salat.  Jika  salat  sekadar  dikerjakan,  Tuhan  justru
                               mengancam dengan azab seperti dalam QS Al-Ma`un/107: 4-
                               5, Fawailun lil mushallīna alladzīna hum ‘an shalātihim sāhūn.
                               Artinya,  „Maka  kecelakaanlah  bagi  orang-orang  yang  salat,
                               (yakni) mereka yang lalai dari  salatnya‟. Menurut Prof. Quraisy
                               Syihab,  lafadz  `an  shalātihim  merujuk  kepada  “esensi”  salat.
                               Jika merujuk kepada syarat rukun salat, maka kalimatnya adalah
                               min  shalātihim.  Jadi,  orang  yang  diancam  oleh  Tuhan  itu
                               bukanlah  al-mushallīn  (orang yang mengerjakan  salat) karena
                               melalaikan  syarat  rukun  salat,  melainkan  al-mushallīn  yang
                               melalaikan  esensi  salat.  Adapun  esensi  salat  adalah untuk
                               “mengingat Tuhan” seperti dalam QS Thaha/20: 14, Wa aqimish
                               shalāta li dzikrī. Artinya, ‟Dan dirikanlah salat untuk mengingat
                               Aku  [Aku=Tuhan]).  Jika  esensi  salat  tercapai,  maka  salat  itu
                               akan  benar-benar  menjadi  tiang  agama  sehingga  salat  yang
                               didirikannya  itu  berdampak  mencegah  perbuatan  keji  dan
                               mungkar.  (QS  Al-Ankabut/29:  45:  Innash  shalāta  tanhā  ’anil
                               fakhsyā`i  wal  munkar.  Artinya,  „Sesungguhnya  salat  [dapat]
                               mencegah perbuatan keji dan mungkar‟).
                            c.   Ciri ketiga, wa mimmā razaqnāhum yunfiqūna (meng-infāq-
                               kan   sebagian   rezeki   yang   Tuhan   anugerahkan   kepada
                               mereka).  Rezeki  dan  harta  yang  diperoleh  manusia  baik  dari
                               hasil kerja keras maupun dari hasil kerja santai, sering kali diaku
                               sebagai miliknya; padahal dalam pandangan Islam harta adalah
                               milik  Tuhan.  Diri  kita  bahkan  milik  Tuhan.  Dalam banyak
                               ayat  Al-Quran  dinyatakan  hal  itu,  antara  lain  dalam  QS  Al-
                               Baqarah/2: 284, lillāhi mā fis-samāwāti wa mā fil ardhi. Artinya,
                               „Kepunyaan   Allah-lah  segala  apa  yang  ada  di  langit  dan
                               segala  apa  yang  ada  di  bumi.‟  Kepemilikan  oleh  manusia
                               hanyalah  sebagai  ujian  belaka  dari  Tuhan.  Opsi  yang
                               ditawarkan, manusia mengakui harta sebagai miliknya ataukah
                               dengan  rela  hati  menetapkan  harta  sebagai  milik  Tuhan.
                               Perwujudan opsi kedua, „tidak mengakui harta sebagai miliknya,‟
                               adalah kerelaan untuk mengeluarkan infak (dan ibadah-ibadah
                               harta lainnya: zakat, sedekah, kurban, dll).
                            d.  Ciri keempat,  walladzīna yu`minūna  bi mā unzila  ilaika wa
                               mā unzila min qablika. Artinya, „Mereka yang beriman kepada
                               „apa-apa‟  (Al-Quran)  yang  diturunkan  kepadamu  (Nabi
                               Muhammad)  dan  beriman  kepada  „apa-apa‟ (kitab-kitab)  yang
                               diturunkan  sebelummu  (kepada  rasul-rasul  sebelumnya).‟ Tim
                               Penterjemah  Al-Quran  Kementerian  Agama  RI  menjelaskan
                               makna  “apa-apa”  yang  diturunkan  itu  adalah  Al-Quran  dan



                                                     294
   302   303   304   305   306   307   308   309   310   311   312